Mungkin bagi anda ini aneh. Natal mengislamkan saya? Bagaimana bisa? Sudah jelas Natal adalah Hari Besarnya ajaran kafir Kristen. Kok bisa dihubungkan dengan Islam? Yang benar saja Bung Erianto Anas?
Ini adalah pengalaman saya pribadi.
Dan penghayatan saya pribadi.
Seumu-umur saya belum pernah menerima ucapan Selamat Lebaran dari orang beragama Kristen. Tapi ….
Waktu itu saya mengikuti pentaran di PPGKes Jogjakarta selama 1 bulan. Begitu saya masuk kamar mes penginapan, sudah ada 3 orang di dalamnya. Saya baru tahu bahwa satu kamar diisi oleh 4 orang peserta penataran. Akhirnya saya berekenalan dengan mereka satu per satu. Dan saya agak kaget kemudian setelah tahu bahwa salah seorang dari mereka adalah seorang beragama Kristen. “Hmm? Bagaimana bisa ya? Bagaimana jadinya suasana pergaulan di kamar ini nanti …” Gumam saya dalam hati.
Saya berpikir suasana pergaulan diantara kami akan tidak kondusif. Bagaimana nanti jika terjadi pembicaraan yang berhubungan dengan agama. Mungkinkah ia akan merasa tersisih dengan kami bertiga yang bergama Islam? Dan mungkinkah kami bertiga bisa mentolerir kehadiran mereka? Atau mungkinkah dia bisa metolerir kami bila menyangkut hal-hal yang berhubungan dengan agama?
Ternyata dugaan saya keliru…
Setiap datang waktu sholat, dan saya masih santai sambil tiduran atau membaca misalnya, dia malah mengingatkan saya: “Nggak sholat mas? Sudah azan tuh…”
Perasaan saya tiba-tiba menjadi lain. Malu. Malu dengan tradisi yang saya terima dari lingkungan Keislaman saya selama ini yang umumnya menilai bahwa umat Kristen kafir sesat tidak baik dan tidak akan pernah senang dengan umat Islam. Dan selalu akan berusaha membujuk umat Islam agar pindah ke agama mereka dan bla bla bla …
Di lain sisi, seorang peserta penataran di kamar lain pernah curhat pada saya. Dia seorang wanita, Kristen. Dia mengeluh karena di kamarnya ada seorang peserta penataran yang sudah ibu-ibu beragama Islam yang ceramah terus tentang Islam. Dan inti dari ceramahnya itu adalah bahwa Islamlah agama yang benar. Dan kalau seseorang mau berpikir dan sadar, maka mereka akan segera masuk Islam. Hanya orang-orang yang tidak sadar dan mendapat petunjuk Tuhanlah yang tidak mau mengakui kebenaran Islam. Dan itulah orang-orang yang sudah ditutup hatinya oleh Tuhan pada kebenaran.
Teman saya ini (walaupun baru kenal di situ), menceritakan hal itu dengan penuh perasaan. Dia merasa kurang nyaman di kamarnya. Setelah ia katakan siapa ibuk-ibuk yang dia maksudkan, saya memperhatikan tingkah ibuk tersebut dalam keseharian selama kegiatan penataran. Baik dalam ruangan maupun dalam keadaan santai bila ketemu di mes.
“Hmm … Pantas…”
Ibuk tersebut rupanya cerewet. Dan dalam pandangan saya dia tidak memahami Islam secara mendasar. Tipologi Islam yang dipahaminya adalah Islam versi Ngamuk. Islam yang suka berteriak Allahu Akbar di jalanan.
Setelah penataran itu usai, saya dan semua peserta penataran pulang.
Sekian waktu berselang datang waktu lebaran Idul Fitri. Maka seperti biasa saya menerima banyak sms dari teman-teman saya. Dan saya agak kaget pas saya baca sms tersebut. Rupanya ada ucapann Selamat Lebaran dari 2 orang teman saya sewatu yang Kristen sewaktu sama penataran itu. Hmm … saya merasa tersentuh. Kenapa mereka bisa begitu? Saya pikir mereka sudah lupa dengan saya apalagi sehubungan dengan hari Lebaran yang saya peringati.
Sekian waktu kemudian, pas Lebaran Idul Adha, rupanya dia mengirim sms lebaran lagi pada saya. Waduh …. Saya benar-benar terentuh atas sikapnya yang simpati atas ritual agama yang saya anut. Kenapa mereka bisa begitu peduli? Saat itu sikap sektarianisme keagamaan saya meleleh.
Bukankah untuk berakhlak yang baik sesama manusia itulah salah satu tujuan utama Tuhan mengutus Muhammad sebagai Nabi.
Saat itu saya bertekad juga akan mengucapkan selamat Natal bila tanggal 25 Desember tiba. Tapi begitu Natal tiba setelah itu, saya benar-benar kecewa. Saya tidak menemukan lagi nomor HP kedua teman saya tersebut. Mungkin nomornya sudah hilang karena saya ganti HP seminggu menjelang hari Natal waktu itu. “Ah …. Sialan …!”
Saya terkenang semua pengalaman itu karena di sini, di Kompasiana ini lagi marak dan hebohnya para Kompasianer menulis tetang Natal. Dan mendiskusikan banyak hal seputar Natal tersebut. Termasuk yang paling heboh akhir-akhir ini adalah masalah Trinitas.
Karena itu pada kesempatan ini saya balas dendam atas niat saya yang tak tersalur waktu itu di sini.
Hai Para Kompasianer Kristiani….!
Selamat Natal untuk Anda semua
Semoga Natal tahun ini akan membuat anda semakin Kristen
Semakin menghayati Kekristenan anda dengan sepenuh hati
Sebagaimana Yesus rela mati demi umatnya
Demi keselamatan atas umat Kristiani
Demi manusia
by :

Ini adalah pengalaman saya pribadi.
Dan penghayatan saya pribadi.
Seumu-umur saya belum pernah menerima ucapan Selamat Lebaran dari orang beragama Kristen. Tapi ….
Waktu itu saya mengikuti pentaran di PPGKes Jogjakarta selama 1 bulan. Begitu saya masuk kamar mes penginapan, sudah ada 3 orang di dalamnya. Saya baru tahu bahwa satu kamar diisi oleh 4 orang peserta penataran. Akhirnya saya berekenalan dengan mereka satu per satu. Dan saya agak kaget kemudian setelah tahu bahwa salah seorang dari mereka adalah seorang beragama Kristen. “Hmm? Bagaimana bisa ya? Bagaimana jadinya suasana pergaulan di kamar ini nanti …” Gumam saya dalam hati.
Saya berpikir suasana pergaulan diantara kami akan tidak kondusif. Bagaimana nanti jika terjadi pembicaraan yang berhubungan dengan agama. Mungkinkah ia akan merasa tersisih dengan kami bertiga yang bergama Islam? Dan mungkinkah kami bertiga bisa mentolerir kehadiran mereka? Atau mungkinkah dia bisa metolerir kami bila menyangkut hal-hal yang berhubungan dengan agama?
Ternyata dugaan saya keliru…
Setiap datang waktu sholat, dan saya masih santai sambil tiduran atau membaca misalnya, dia malah mengingatkan saya: “Nggak sholat mas? Sudah azan tuh…”
Perasaan saya tiba-tiba menjadi lain. Malu. Malu dengan tradisi yang saya terima dari lingkungan Keislaman saya selama ini yang umumnya menilai bahwa umat Kristen kafir sesat tidak baik dan tidak akan pernah senang dengan umat Islam. Dan selalu akan berusaha membujuk umat Islam agar pindah ke agama mereka dan bla bla bla …
Di lain sisi, seorang peserta penataran di kamar lain pernah curhat pada saya. Dia seorang wanita, Kristen. Dia mengeluh karena di kamarnya ada seorang peserta penataran yang sudah ibu-ibu beragama Islam yang ceramah terus tentang Islam. Dan inti dari ceramahnya itu adalah bahwa Islamlah agama yang benar. Dan kalau seseorang mau berpikir dan sadar, maka mereka akan segera masuk Islam. Hanya orang-orang yang tidak sadar dan mendapat petunjuk Tuhanlah yang tidak mau mengakui kebenaran Islam. Dan itulah orang-orang yang sudah ditutup hatinya oleh Tuhan pada kebenaran.
Teman saya ini (walaupun baru kenal di situ), menceritakan hal itu dengan penuh perasaan. Dia merasa kurang nyaman di kamarnya. Setelah ia katakan siapa ibuk-ibuk yang dia maksudkan, saya memperhatikan tingkah ibuk tersebut dalam keseharian selama kegiatan penataran. Baik dalam ruangan maupun dalam keadaan santai bila ketemu di mes.
“Hmm … Pantas…”
Ibuk tersebut rupanya cerewet. Dan dalam pandangan saya dia tidak memahami Islam secara mendasar. Tipologi Islam yang dipahaminya adalah Islam versi Ngamuk. Islam yang suka berteriak Allahu Akbar di jalanan.
Setelah penataran itu usai, saya dan semua peserta penataran pulang.
Sekian waktu berselang datang waktu lebaran Idul Fitri. Maka seperti biasa saya menerima banyak sms dari teman-teman saya. Dan saya agak kaget pas saya baca sms tersebut. Rupanya ada ucapann Selamat Lebaran dari 2 orang teman saya sewatu yang Kristen sewaktu sama penataran itu. Hmm … saya merasa tersentuh. Kenapa mereka bisa begitu? Saya pikir mereka sudah lupa dengan saya apalagi sehubungan dengan hari Lebaran yang saya peringati.
Sekian waktu kemudian, pas Lebaran Idul Adha, rupanya dia mengirim sms lebaran lagi pada saya. Waduh …. Saya benar-benar terentuh atas sikapnya yang simpati atas ritual agama yang saya anut. Kenapa mereka bisa begitu peduli? Saat itu sikap sektarianisme keagamaan saya meleleh.
Bukankah untuk berakhlak yang baik sesama manusia itulah salah satu tujuan utama Tuhan mengutus Muhammad sebagai Nabi.
Saat itu saya bertekad juga akan mengucapkan selamat Natal bila tanggal 25 Desember tiba. Tapi begitu Natal tiba setelah itu, saya benar-benar kecewa. Saya tidak menemukan lagi nomor HP kedua teman saya tersebut. Mungkin nomornya sudah hilang karena saya ganti HP seminggu menjelang hari Natal waktu itu. “Ah …. Sialan …!”
Saya terkenang semua pengalaman itu karena di sini, di Kompasiana ini lagi marak dan hebohnya para Kompasianer menulis tetang Natal. Dan mendiskusikan banyak hal seputar Natal tersebut. Termasuk yang paling heboh akhir-akhir ini adalah masalah Trinitas.
Karena itu pada kesempatan ini saya balas dendam atas niat saya yang tak tersalur waktu itu di sini.
Hai Para Kompasianer Kristiani….!
Selamat Natal untuk Anda semua
Semoga Natal tahun ini akan membuat anda semakin Kristen
Semakin menghayati Kekristenan anda dengan sepenuh hati
Sebagaimana Yesus rela mati demi umatnya
Demi keselamatan atas umat Kristiani
Demi manusia
by :

Tidak ada komentar:
Posting Komentar