Peringatan: Tulisan ini untuk lingkungan terbatas. Syarat minimal sudah terbiasa berpikir realistis dan sportif terhadap realitas agama di lapangan.
Saya menulis judul ini berdasarkan fakta yang saya baca, saya lihat dan saya dengar. Umat Islam banyak yang tidak toleran, keras dan galak dalam mengekspresikan sikap keberagamaannya di medan publik. Bahkan banyak yang menjadi pelaku teror atas nama Tuhan. Dan sejarah sudah mencatat fakta bahwa banyak umat Islam melakukan perang atas nama agama.
Sedangkan umat Buddha, sangat jarang terdengar melakukan hal-hal seperti itu.
Kenapa?
Pertama: Konsep ajaran agama
Sejauh yang saya baca dan pahami, konsep Buddhisme tidak mengenal istilah dakwah seperti yang ada dalam agama Islam. Apalagi berbagai bentuk gerakan AGAMAISASI. Sejauh ini saya belum pernah mendengar atau membaca ada misionaris Buddha.
Inti konsep ajarannya adalah kedamaian pikiran (nirvana). Dan itu tidak mungkin dilakukan dengan memaksakan kehendak pada orang lain. Prinsip kebuddhaan sejati adalah ketika seseorang selalu membebaskan diri dari segala belenggu pikiran. Dan hakikinya, jika seseorang sudah melakukan hal itu hingga akhirnya sampai pada pencerahan, maka itulah seorang Buddhis sejati. Terserah secara legal formal apa agamanya. Karena konsep Buddhisme tidak menghendaki alias tidak peduli dengan nama atau istilah. Orientasinya adalah praktek. Latihan demi latihan meditasi. Dengan kata lain yang terpenting adalah esensi Kebuddhaan yang melekat pada diri seseorang.
Nah, karena itulah mereka tidak arogan dan patriotik untuk menyebarkan agama Buddha.
Lain halnya dengan agama Islam.
Meskipun konsep-konsep seperti universalitas dan kedamaian itu juga ada, namun juga tidak sedikit ayat-ayat Alquran yang isinya memang menyerukan untuk berdakwah secara fisik bahkan, maaf, sepertinya terkesan agak galak.
Kedua: Masalah Penafsiran
Selain memang ada ayat-ayat yang terkesan menyeru pada tindak penyebaran agama (dakwah) yang keras dan galak, sebagian penafsir Alquran berpendapat bahwa ayat-ayat seperti itu harus dipahami secara kontekstual. Artinya tidak bisa ditarik dan disarung begitu saja untuk segala situasi dan kondisi. Dengan kata lain ayat itu lebih bersifat kasuitis. Dalam hal ini mengacu pada kondisi yang dihadapi umat Islam saat ayat itu turun. Karena umat Islam saat itu didesak dan tertindas oleh kaum kafir Mekkah, yang ujung-ujungnya Nabi Muhammad dengan umatnya terpaksa hijrah ke Madinah. Artinya umat Islam keras saat itu bukan karena ingin menyebarkan agama. Tetapi lebih sebagai membela HAK kemanusiaanya untuk bebas menganut agamanya dari tekanan.
Nah, masalahnya kemudian adalah ketika ayat-ayat seperti itu ditelan mentah-mentah oleh umat Islam. Kemudian dengan lantang diteriakkan dan diterapkan secara merata dimana dan kapan saja. Karena dalam pandangan sebagian mereka, belum kaffah iman seorang Muslim jika hanya mengamalkan ayat-ayat Alquran setengah-setengah.
Inilah problem penafsiran, yang akhirnya berimplikasi pada tindakan nyata umat Islam di lapangan sosial. Dan saya sudah sering menyinggung akan hal ini dalam lebih kurang 400 tulisan.
by :

Saya menulis judul ini berdasarkan fakta yang saya baca, saya lihat dan saya dengar. Umat Islam banyak yang tidak toleran, keras dan galak dalam mengekspresikan sikap keberagamaannya di medan publik. Bahkan banyak yang menjadi pelaku teror atas nama Tuhan. Dan sejarah sudah mencatat fakta bahwa banyak umat Islam melakukan perang atas nama agama.
Sedangkan umat Buddha, sangat jarang terdengar melakukan hal-hal seperti itu.
Kenapa?
Pertama: Konsep ajaran agama
Sejauh yang saya baca dan pahami, konsep Buddhisme tidak mengenal istilah dakwah seperti yang ada dalam agama Islam. Apalagi berbagai bentuk gerakan AGAMAISASI. Sejauh ini saya belum pernah mendengar atau membaca ada misionaris Buddha.
Inti konsep ajarannya adalah kedamaian pikiran (nirvana). Dan itu tidak mungkin dilakukan dengan memaksakan kehendak pada orang lain. Prinsip kebuddhaan sejati adalah ketika seseorang selalu membebaskan diri dari segala belenggu pikiran. Dan hakikinya, jika seseorang sudah melakukan hal itu hingga akhirnya sampai pada pencerahan, maka itulah seorang Buddhis sejati. Terserah secara legal formal apa agamanya. Karena konsep Buddhisme tidak menghendaki alias tidak peduli dengan nama atau istilah. Orientasinya adalah praktek. Latihan demi latihan meditasi. Dengan kata lain yang terpenting adalah esensi Kebuddhaan yang melekat pada diri seseorang.
Nah, karena itulah mereka tidak arogan dan patriotik untuk menyebarkan agama Buddha.
Lain halnya dengan agama Islam.
Meskipun konsep-konsep seperti universalitas dan kedamaian itu juga ada, namun juga tidak sedikit ayat-ayat Alquran yang isinya memang menyerukan untuk berdakwah secara fisik bahkan, maaf, sepertinya terkesan agak galak.
Kedua: Masalah Penafsiran
Selain memang ada ayat-ayat yang terkesan menyeru pada tindak penyebaran agama (dakwah) yang keras dan galak, sebagian penafsir Alquran berpendapat bahwa ayat-ayat seperti itu harus dipahami secara kontekstual. Artinya tidak bisa ditarik dan disarung begitu saja untuk segala situasi dan kondisi. Dengan kata lain ayat itu lebih bersifat kasuitis. Dalam hal ini mengacu pada kondisi yang dihadapi umat Islam saat ayat itu turun. Karena umat Islam saat itu didesak dan tertindas oleh kaum kafir Mekkah, yang ujung-ujungnya Nabi Muhammad dengan umatnya terpaksa hijrah ke Madinah. Artinya umat Islam keras saat itu bukan karena ingin menyebarkan agama. Tetapi lebih sebagai membela HAK kemanusiaanya untuk bebas menganut agamanya dari tekanan.
Nah, masalahnya kemudian adalah ketika ayat-ayat seperti itu ditelan mentah-mentah oleh umat Islam. Kemudian dengan lantang diteriakkan dan diterapkan secara merata dimana dan kapan saja. Karena dalam pandangan sebagian mereka, belum kaffah iman seorang Muslim jika hanya mengamalkan ayat-ayat Alquran setengah-setengah.
Inilah problem penafsiran, yang akhirnya berimplikasi pada tindakan nyata umat Islam di lapangan sosial. Dan saya sudah sering menyinggung akan hal ini dalam lebih kurang 400 tulisan.
by :

Tidak ada komentar:
Posting Komentar