Info

Prakata

mohon maaf, blog ini masih dalam tahap belajar (newbie). jadi harap maklum kalau artikel-artikelnya kebanyakan dari copast sana-sini. nanum jika anda merasa ini adalah artikel anda, dan tidak ingin artikelnya di tampilkan di blog ini, silahkan berkomentar agar saya bisa menghapus artikelnya. sekali lagi saya mohon maaf dan terima kasih telah mampir di blog ini..

Sabtu, 05 Februari 2011

Porno itu Perlu. Kenapa Dilarang?

Marilah kita jujur-jujur saja. Bahwa diam-diam kita kita tetap suka gambar porno, film porno, tulisan porno dan segala porno-porno lainnya. Apakah anda memang tidak suka? Ah …. Yang benar nih….

Kenapa Kita Suka Porno?

Karena otak kita masih lapar dengan segala yang porno. Karena selama ini yang porno sudah dipagar dan disegel sebagai kawasan iblis. Ada proses penTABUan. Terlarang. Angker dan seterusnya. Akibatnya semakin dipagar, semakin dilarang maka yang porno itu akan semakin seksi dan semakin birahis untuk ditonton.

Bukankah kita semua terlahir dalam keadaan porno?
Bukankah kita pada mulanya terlahir telanjang?
Lalu menetek pada payudara si ibu yang juga porno?
Lalu setiap hari dibugili ibu menjelang kita dimandikan dan kemudian dibungkus lagi dengan pakaian?

Bukankah proses budaya yang secara berangsur-ansur memberangus segala kepornoan kita? Kita dididik dan diindoktrinasi secara bertahap bahwa porno itu bla bla bla ….. haram titik?

Maka sejak perpisahan kita dengan segala kepornoan kita, ibarat perpisahan antara Adam dan Hawa pertama kali dilemparkan ke bumi, maka sepanjang hidup kita adalah rasa lapar akan pencarian si porno kita yang hilang. Kita selalu haus, dahaga, dan …..ah kembalilah pornoku. Aku rindu.

Maka sejak pentabuan porno itulah segala yang berbau porno menjadi laku keras di pasaran. Berapa lapis pun tembok pemagar dibangun, tetap saja akan ditembus agar kekasih yang bernama porno itu bisa diakses. Agar bisa disentuh dan disetubuhi.

Ah …. Bung Erianto Anas Porno …malu ah!

Itulah hasil dari TABUISASI.

Porno, pada mulanya hanya barang biasa. Tidak lebih mahal dari harga emas. Tapi dibikin horror agar laris manis di pasaran. Saya ragu jika anda telajanjang di masyarakat zaman purba, tubuh anda tidak akan laku seperti di Indonesia hari ini. Atau seperti di situs-situs berlabel porn di dunia maya.

Porno dan tidak porno adalah produk budaya. Bukan turun dari langit. Ada evolusi kesadaran yang panjang sehingga akhirnya makhluk yang bernama porno ini lahir. Dan akhirnya selalu kita intip dan kita buru bersama-sama. Baik yang terang-terangan maupun yang sembunyi-sembunyi. Baik yang digelar di tempat umum maupun yang dilipat di dalam dompet.

Benarkah anda tidak suka porno?

Suka suka sih. Tapi kasihan kan anak-anak kita nanti.

Itulah jawaban yang sudah dicetak, yang sudah dindoktrinasikan ke dalam otak kita bahwa porno adalah tuyul yang harus dijauhi. Bahwa porno adalah monster yang harus dihindari. Padahal porno itu selalu ada dalam diri kita. Dimana pun dan kapan pun kita berada. Itu sebabnya pembredelan terhadap segala yang porno tidak pernah berhasil hingga sekarang (yang melarang juga gila porno). Karena apa? Manusia butuh porno. Dan sekian kapling dalam memori otak kita isinya adalah hasrat dan naluri porno. Kita tidak bisa pura-pura tidak porno. Apalagi mengaku tidak butuh porno. Entah kalau anda.

Jadi Bung Erianto Anas menganjurkan kita sewenang-wenang dengan porno?

Tidak! Lakukanlah pendidikan porno dengan jujur dan sportif. Budayakan pendidikan seks. Jangan mentabukan seks. Jangan mentuyulkan porno. Porno itu bukan Tuhan. Porno itu bukan berhala yang tidak boleh dipahat ulang. Dekati dan pelajari porno itu sebagai sesuatu yang normal dan manusiawi hingga akhirnya anak-anak kita mengerti. Mudah-mudahan dia tidak menjadi generasi yang lapar porno setelah dewasa nanti.

Sstt….. ada video porno terbaru gak?

by :

Artikel Terkait:

Tidak ada komentar: